Senin, 04 Februari 2008

Buku Islam : Mantan Kyai NU Menggugat Tahlilan, Istighosahan dan Ziarah Para Wali

Penulis : H. Mahrus Ali

Editor : Arif Mustaqim

Penerbit : Laa Tasyuk!

SEKALI LAGI TENTANG TAHLILAN

Baca dulu yang satu ini.......

Mana dalilnya? Kok enak saja ngomongin tahlilan, selamatan dan ziarah wali, dikatakan bidah. Itukan hanya omongan orang-orang yang anti tahlilan. Coba!!! tunjukkan mana yang salah dalam amalan kami ini? Dzikir-dzikir yang dibacakan banyak dari ayat al-Quran dan meng-Agungkan nama Allah , bukan mantra-mantra, gitu kok dikatakan bid'ah!!!

Lihat keberhasilan dakwah kami, yang begitu menyentuh hati sehingga banyak umat yang simpati, dari kalangan awam sampai cendekiawan bahkan kalangan istana pun ikut-ikutan latah! Bukan seperti dakwah mereka yang bisanya hanya membidahkan dan memojokkan golongan orang yang doyan tahlillan, bahkan menegaskan akan masuk ke dalam neraka. Coba lihat, buku-buku mereka yang anti tahlilan, intinyakan hanya bisa menggugat dan mengkritik amaliah-amaliah kami yang populer dan sudah mengakar di hati umat ini! Judulnya pun banyak yang membingungkan dan memecah belah persatuan antar umat, diantaranya: Tahlil dan Selamatan Menurut Madzhab Syafii, Yasinan, Tahlillan dan Selamatan. Itukan hasyud dan iri hati dengan kesuksesan dakwah kami….(sementara ditutup dulu kalimat-kalimat tadi)

Namun bagaimana jika yang menggugat semua amalan yang bid ah, syirik dan kufur kepada Allah tersebut adalah seorang mantan KIAI sang pelaku bid ah itu sendiri. Yang pasti doyan dengan tahlilan, selamatan, istighosahan dan ziarah wali atau ke tempat-tempat yang dianggap keramat. Tentunya Pak KIAI ini dengan membawa dalil dari al-Quran dan as-Sunnah yang shohih, bukan asal-asalan dan nglantur asal ngomong yang tidak berdalil. Apakah ada yang masih tak percaya? Bahwa semua amaliah yang mereka kerjakan tersebut bid'ah dan tertolak yang harus ditinggalkan dan dijauhi sejauh-jauhnya!

Generasi sekarang sudah waktunya untuk senantiasa belajar agama kepada ahli hadits yang shohih dan harus berani menolak tuntunan atau ajaran yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam , bukan malah latah ikut-ikutan orang sesat yang menyesatkan. Kalau bukan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam , siapa lagi teladan kita? Apa mbah? Kiai? Ustadz? Habib atau orang yang kita anggap alim? Agar amaliah yang kita kerjakan dari usia baligh sampai tua tidak sia-sia belaka, dan kita tidak akan kecewadi akhirhayat nanti.

Sungguh apa yang dipaparkan oleh Mantan KIAI NU dalam buku ini. tidak berlebihan dan mengada-ada. la begitu jelas dan gamblang. Disertakan juga hadits-hadits yang shohih dan kitab referensi mulai dari Imam Syafii sebagai panutan mayoritas umat Islam di Indonesia, sampai para ulama Saudi yang pasti tingkat ketauhidannya sudah diakui oleh seluruh ulama dunia.

buku ini diberi pengantar H. Abdul Rahman anggota Tim Penasehat MUI Pusat periode 2005-2010)

20 komentar:

Anonim mengatakan...

Muammal Hamidy Cabut Tuduhan ‘Musyrik’ untuk NU
Jumat, 14 Maret 2008 14:45
Surabaya, NU Online
Muammal Hamidy yang memberikan pengantar dalam buku "Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik" karangan H Mahrus Ali akhirnya mencabut tuduhan musyrik (menyekutukan Tuhan) yang diarahkannya untuk NU atas beberapa amal ibadah yang selama ini dikerjakan.

Wakil Ketua PW Muhamadiyah Jawa Timur menyatakan bersedia mencabut pernyataannya itu dengan sebuah pernyataan resmi setelah kalah berdebat dengan KH Abdullah Syamsul Arifin, Ketua Tim Lembaga Bahsul Masail Pengurus Cabang NU Jember, Jawa Timur, dalam acara debat terbuka terkait buku kontroversial itu di ruang Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (12/3) kemarin.

Gus A’ab, sapaan akrab KH Abdullah Syamsul Arifin dalam debat terbuka itu menyatakan, buku karya Mahrus Ali penuh dengan tuduhan yang tidak berdasar. Namun yang paling menyakitkan adalah tudingan kafir dan syirik kepada orang yang bertawassul dan beristigotsah.

Sementara itu Muammal Hamidy –dalam pengantarnya—juga menuduh kalangan Nahdliyyin yang bertawassul (berdoa dengan perantaraan Nabi Muhamamad dan orang-orang shalih) sebagai mukmin musyrik. “Itu istilah dari mana, mana dalilnya, coba jelaskan?” tukas Gus A’ab seraya meminta KH Muammal Hamidy agar bersedia mencabut pernyataan itu jika tidak bisa menjelaskan dalilnya.

Saat moderator memberi kesempatan kepada Muammal, ia mengatakan bahwa istilah itu hanya pemahaman dirinya saja. Istilah itu dianalogikannya dengan ”kafir-musyrik”, sehingga muncul padanannya ”mukmin-musyrik”. ”Sebab, kenyataannya banyak orang mukmin yang masih percaya tahayyul seperti Nyai Roro Kidul dan semacamnya,” katanya.

Gus A’ab mengatakan, istilah mukmin (beriman) dan muysrik (menyekutukan Tuhan), dua term yang berbeda, sehinga tidak bisa disandingkan. “Lagi pula, apa hubungannya istigotsah dan mamaliyah yang dilakukan warga Nahdliyyin dengan Nyai Roro Kidul,” ujarnya.

Merasa tak punya argumentasi, KH Muammal lalu menyatakan bersedia mencabut pernyataannya itu. Usai acara Muammal Hamidy masuk suatu ruangan. Disaksikan Direktur Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel, Prof DR Ahmad Zahro, KH Muhyiddin Abdussomad, KH Agus Ali Mashuri, dan beberapa kiai lain, KH. Muammal Hamidy pun menulis selembar pernyataan.

Intinya adalah Muammal Hamidy mencabut kalimat Mukmin-Musyrik, di dalam pengantar Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik, sehingga dalam buku yang beredar dianggap tidak ada lagi kalimat itu. (ary)

Team Ihya As-Sunnah mengatakan...

berita bahwa KH. Muammal Hamidy Cabut Tuduhan ‘Musyrik’ untuk NU adalah berita yang lemah, bagaimana tidak, sebab tidak ada data-data yang mendukung, seperti transkrip pernyataan resmi yang bisa dilihat, tidak ada data-data yang mendukung pernyataan NU online yang bisa dijadikan alat bukti.

Anonim mengatakan...

Rekaman Debat Terbuka NU vs Wahabi Sudah Beredar

Empat hari usai digelarnya debat terbuka NU vs Wahabi di Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya beberapa waktu lalu, kini rekaman seluruh isi rangkaian acara tersebut sudah jadi dan siap edar. Demikian pernyataan A Makruf Asrori, Wakil Ketua LTN NU Jawa Timur kepada NU Online, Ahad (16/3).

”Ya, rekaman itu sudah jadi dan bisa diperoleh melalui saya,” tuturnya.

Menurut Makruf, rekaman itu berdurasi dua jam, tersimpan dalam dua keping VCD dengan sampul depan tertulis ”Debat Terbuka NU vs Wahabi” disertai gambar Drs KH Abdullah Syamsul Arifin M Hi (NU), H Mahrus Ali (Wahabi) dan KH Muammal Hamidi, Lc (Wahabi).

Rekaman berdurasi dua jam itu diambil melalui proses editing dari jalannya acara yang sebenarnya berlangsung selama kurang lebih tiga jam.

Makruf mengatakan, seluruh isi pembicaraan dan sambutan-sambutan dalam acara itu terekam lengkap, termasuk ekspresi kekecewaan Direktur Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Prof Dr H Ahmad Zahro, MA terkait ketidakhadiran H Mahrus Ali.

Selain itu pihaknya juga mengaku kecewa atas kerapuhan dalil-dalil yang digunakan oleh Muammal Hamidy dalam debat yang berlangsung dialogis itu.

Dalam debat tersebut, Muammal, yang mewakili Wahabi, kerap menggunakan dalil Hadits, namun ketika dikejar lebih jauh soal hadits, ia tidak menguasai ilmu musthalah Hadits. Padahal ilmu itu mutlak dibutuhkan bagi siapapun yang mempelajari Hadits.

Muammal adalah alumni Madinah dan dikenal sebagai kiainya Muhammadiyah. Ketika debat tentang status hadits riwayat Bukhori yang ada dalam kitab selain Shohih Bukhori, misalnya, ia ternyata mengakui kebenaran argumentasi yang disampaikan oleh tim NU yang dipimpin Gus A’ab. Demikian pula ketika beradu argumentasi tentang hukum bertawassul, ia harus mengaku telah melakukan kesalahan, bahkan sampai harus menandatangani pernyataan atas kesalahan tulisannya dan mencabutnya.

Dalam debat itu, Muammal juga mengaku kalau status orang bertawassul sebagai orang ”muslim-musyrik” hanyalah takwil dari dirinya, meski setelah debat usai, ia mencabut pernyataannya itu.

Mengenai isi rekaman, Makruf, yang masih menyisakan 50 keping VCD, menuturkan, pihaknya akan membagikannya secara gratis.

”Bagi mereka yang sudah mendapatkan dipersilakan untuk menggandakannya sendiri, soal mau dijual atau dibagikan secara gratis kepada orang lain, sepenuhnya adalah hak mereka,” kata Makruf.

”Saya murni berniat dakwah, tidak mencari keuntungan. Kalau mau dibajak, ya silakan dibajak, saya ikhlas,” ujarnya dengan nada santai. Bagi mereka yang menginginkan rekaman itu bisa menghubungi Makruf Asrori di nomor 081553572073

Anonim mengatakan...

Para pembeli buku SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOGUSTI dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN
ISBN:978-979-17824-0-1/barcode

1. Bapak Dedi S.Panigoro/ Holding PT MEDCO GROUP,Eksplorasi Minyak dan Metanol
Jl Ampera Raya no.20, Gedung MEDCO
Jakarta Selatan
Jumlah pemebelian : 50 buku SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOGUSTI dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN

2. Bapak. Cardiyan HIS
President & CEO SWI Group
Jl. Balai Pustaka Timur no. 13,
Rawamangun, Jakarta Timur
Jumlah pemebelian : 5 buku SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOGUSTI dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN

3. Bpk Syarif Ubaidillah/Oebay/wartawamn Media Indonesia
Jl Dewi Sartika no.18 Rt 01/RW 02,Gang Masjid Al Himmah
,Cipayung,Ciputat,Tangerang
Jumlah pemebelian : 20 buku SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOGUSTI dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN

4. Bpk Anwar/PT. Indoglobal International(penjual alat security dan alat2 spionase intelijen )
Komplek Taman Kebon Jeruk
Blok AA IV No. 35
Jakarta 11650
Jumlah pemebelian : 5 buku SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOGUSTI dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN

5. Bpk Bpk Rizqi Andre/Dosen Tatanegara UPN Surabaya
jalan penataran no.17 pacarkeling-surabaya-jawa timur.no.HP: +62081-793-300-09
Jumlah pemebelian : 5 buku SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOGUSTI dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN

6. Bpk Najib S Munir/ LSM-FSAS Jepara, Jalan Sidodadi No. 02 Pecangaan Kulon Pencangaan Jepara,
2 buku

7. Murid Kyai Toha ,Jombang
Beli 2 buku

8. Kepada Yth :
Bpk. Ghorib,Kalimantan , Mau nambah pesanan 50 beli buku,UNTUK Area Kalimantan

9.Toni,Perumahan TukumIndah blok Y no.2
Lumajang,5 buku

Promosi Buku :SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOGUSTI dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN
Kover Kover Belakang dan Depan Buku Pewayangan Kresna, Gatotkaca dan Kayon

Tebal Buku: 110 halaman, Ukuran Buku : 15cm X 21 cm, Harga Buku : Rp 20.000,---
Ringkasan Buku : Buku yang ada di hadapan Anda adalah sebuah Mozaik pertemuan tradisi – tradisi besar yang berkembang di Nusantara dan Dunia sebagai bentuk perwujudan dari Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa (berbeda –beda tetapi satu, tidak ada kebenaran yang mendua sebab Tuhan adalah Tunggal dan Transenden, tetapi termanifestasi ke berbagai bentuk ) serta kumpulan wisik ghoib yang diterima oleh sahabat-sahabat kita yang menekuni tasawuf tetapi dalam pencarianNya terhadap Tuhan yang transenden, mereka tetap concern dengan kondisi Sosial yang berkembang di Nusantara Indonesia. Dalam berbagai Kitab Suci disebutkan akan adanya suatu era Kemakmuran dan Keadilan yang datang menjelang akhir zaman, tanpa menyebut determinisme waktu hal itu akan terjadi. Tetapi cukup untuk memperingatkan kita bahwa ketika menghadapi kondisi sosial yang carut marut, semua insan mengharapkan adanya perubahan kondisi yang lebih baik dari saat ini. Sementara sumber daya Indonesia dijadikan ajang perebutan negara-negara lain, dan kita dibiarkan menjadi konsumen tanpa memiliki kemampuan mengolah dan mendapatkan nilai tambah. Buku ini akan memberi panduan dan jalan yang akan ditempuh untuk menggapai
tanpa mengesampingkan keberadaan elemen kebangsaan yang lain. Tetapi mengajak kita larut dalam dunia introspeksi dan kontemplasi untuk menjadi sumber inspirator bagi masyarakat Indonesia yang mampu membawa Indonesia menuju Mercu Suar Dunia. Sehingga meningkatkan rasa percaya diri dan nasionalisme kebangsaan di tengah pergolakan era globlalisasi yang di dominasi oleh materialisme dan kapitalisme global. Semoga dengan selesai ditulisnya buku ini per 3 Maret 2008, Buku ini bisa dimanfaatkan oleh seluruh kalangan untuk menggugah semangat keadilan, kebangsaan dan mendapatkan pencerahan yang sejati. Juga diambil hikmahnya untuk membangkitkan semangat spiritual di setiap agama dan meningkatkan sumber daya manusia untuk mencapai Indonesia mercu suar dunia. Buku ini berisi wisik ghoib yang diterima oleh Winasis mengenai Satrio Paningit dan kondisi Nusantara saat ini serta penjelasannya, juga berisi anjuran sikap yang mesti dilakukan oleh setiap orang di saat Nusantara ditimpa bencana bertubi-tubi. Munculnya bencana di nusantara dan masalah-masalah Kebangsaan yang tak dapat teratasi merupakan tanda-tanda munculnya Satrio Paningi. Kajian Ilmiah dan Rasional Tentang Hadits Kemunculan Imam Mahdi (simbol Negara Timur) dan Isa (simbol Negara Barat ) Siapapun Orangnya yang mempelajari Hadits munculnya imam Mahdi akan berkesimpulan datangnya ditandai dengan perang Internasional- terjadi Krisis BBM atau rebutan ladang Minyak- kasus Iraq, Afganistan, Iran dan ketika tiap orang yang di timur dapat berhubungan dan melihat apa yang terjadi di barat dengan sekejap mata- munculnya teknologi telekomunikasi 3G yaitu Wideband-CDMA-komunikasi suara dan tampilan layar sekaligus. Dalam kitabnya Joyoboyo disebut: Satrio Paningit bakal jumedul ana antarane mandura wetan (pulau Madura) lan manduro kulon ( desa Matokan, Kabuh, Jombang) , merupakan wilayah Jawa Timur. Tasawuf ideal adalah tasawuf berdasarkan universalitas keagamaan yaitu berdasarkan ajaran para nabi yaitu 124.000 nabi yang tersebar di berbagai suku bangsa di dunia denan inti akhlakul karimah, membela yang tertindas dan menegakkan prinip keadilan. Perwujudan dari Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa (berbeda –beda tetapi satu, tidak ada kebenaran yang mendua sebab Tuhan adalah Tunggal dan Transenden, tetapi termanifestasi ke berbagai bentuk. Dalam kitab Sutasoma karangan mpu Tantular.
Daftar isi :Bab 1: Nusantara Menuntut Keadilan – jilid 2,Bab 2: Nusantara Menuntut Keadilan – jilid 1, Bab 3: Bumi Nusantara Menanti Bocah Angon,Bab 4: GORO-GORO INDONESIA.,Bab 5: Sumatera, Raja Jayanegara dan Diplomat Adityawarman, Bab 6: Tahun 2012 Bumi akan dihancurkan kembali, Bab 7: Pandangan Perspektif Geopolitik: Nusantara dan Majapahit, Bab 8: Siapakah Imam Muhammad bin Hasan Al Askari, Bab 9: Satrio Paningit : Antara Bima, Semar dan Saudara Kembar Baladewa dan Kresna, Jawa Timur: Mandura Wetan dan Manduro Kulon, Bab 10: Kajian Tafsir Huruf Muqota’ah dan Mulla Shadra : Pandangan Siti Jenar dan Husain ibnu Mansur al-Hallaj dalam Manunggaling Kawulo Gusti, Bab 11 Sholat dan Manunggaling Kawulo lan Gusti MaknaTerdalam Huruf Ba – Saripati Fateha, Bab 12: Islam , Pewayangan Jawa dan Langit Lima sebagai Cerminan Kondisi Nusantara, Bab 13 : Makna Pluralisme Dibalik Surat al Waqiah dan Surat Yasin, Bab 14 : Tokoh Sufi dalam Universalitas Keagamaan Bab 15: Musik Dalam Islam ,Yunani dan Hindhu, Bab 16: Ajaran Nabi Muhammad tentang mencapai Kun/ Ismul Adzhom/ Dhunatamak/ Nama Tak Tertulis Tuhan/ Irama Ilahi, Bab 17: Tasbih Para Malaikat Langit dan Semar Punokawan, Bab 18: Dialog antara Semar dan Rsi Drona, Bab 19 Rokaat Terakhir : Kunci akhir Al Waqi’ah/ Goro-Goro , Puisi Para Pencinta, Kajian Kebangsaan dari Poros Poros Langit dan Intelektual, Sarasehan Budaya Kembali ke Jati Diri Bangsa: Belajar dari Dinasti Majapahit.,Tentang Gajah Mada dan Desa Matokan, Kabuh, Jombang . Lintang Kemukus telah muncul makanya sholat dan Doa Pejuang Keadilan dan Kejayaan dilakukan untuk antisipasi saat ini dan menjelang 2012, sekilas tentang Syek Subaqir atau Muhammad al Baqir, Wirid Harian untuk Hajat dan Rizqi dari Syekh Subaqir.


Referensi Pustaka :

1. Insan Kamil, Syeikh Abdul Karim al Jaili, Pustaka Hikmah Perdana, 2005
2. Bhagavad Gita as It Is, Sri Srimad A.C Bahktivedanta Swami Prabhupada, Hanuman Sakti, 2000
3. Tafsir Nurul Quran, Allamah Kamal Faqih, Al Huda, 2006
4. Hakekat Sholat, Imam Khomeini, Misbah, 2000
5. Makrifat Ibadah,Sayid Haydar Amuli,Serambi, 2008
6. Ensiklopedi Wayang Purwa, Drs Suwandono, Ditjen Kebudayaan Departemen P & K,
7. Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam, Prof. Seyyed Hossein Nasr, Mizan, 2003
8. Suluh Sant Mat, Maharaj Charan Singh,Yayasan Radha Soami Indonesia, 1996
9. Tafsir Surat Yasin, Prof .Mohsin Qiraati, Cahaya, 2006
10. Biografi Politik Ali Syari’ati, Prof.Ali Rahnema, Erlangga, 2000
11. Ajaran dan Kehidupan Spiritual Ibnu ’Arabi, Stephen Hirtenstein, Murai Kencana, 2001
12. Citra Bima, Drs. Woro Aryandini, Universitas Indonesia, 2000
13. Kitab Negara Kertagama, Dr Bambang Pramudito, Gelombang Pasang, 2006
14. Imam Mahdi, Proses Gerakan hingga Era Kebangkitan, Prof Ali al Kurani, Misbah, 2004
15. website ,Sejarah Jambi
16. Tafsir Sejarah Nagara Kretagama, Prof.Dr.Slamet Muljana, LKIS, 2006
17. Acara lokakarya Shalat sebagai Mi’rajnya Orang-orang Beriman, 6 Oktober 2004, di Jakarta Islamic Center
18. Husain bin Manshur al Hallaj, Prof. Louis Massignon, 2000, Serambi
19. Manifestasi Ilahi, Mulla Shadra, Pustaka Hidayah, 2004
20. Wisik-wisik Ghoib dari winasis Poros Langit dan Intelektual Independen yaitu kyai Turmudzi dkk
21. Kitab Bait Joyoboyo, Raja Kediri,
22. 14 Manusia Suci, Fatih Guven, 1996
23. Majalah Cempala,Semar,1994
24. Serat Siti Jenar, Tan Khoen Swie, Kediri,1922
25. Website,Naqshabandi Haqqani, United state of America
26. website, Atlantic Geology of Prof.Aryo Santos

Untuk pembaca yang berminat mengikuti perkembangan Poros Langit dan Intelektual Independen atau memberikan saran pendapat dan komunikasi di dunia maya/ pemesan buku ini. Bisa menuliskan pendapatnya di website blog di internet dengan alamat dibawah ini:
http:/poroslangit.blogdrive.com/archive/1.html
Distributor Tunggal Buku :
Info Pembelian Buku dapat dibeli di:
Bustanus/Mimi Oktiva di Warnet Nusantara-Jayanegara, Jl. Jayanegara 11/17 Jombang-JawaTimur,
Telp 0321 862137 atau sms/telpon di HP: 0818 08052575

Anonim mengatakan...

temen2 smua ini uda pinter jadi gag perlu memaksakan pendapatnya untuk di ikuti. klo ak pribadi takut, takut tuk bertaruh antara benar atau salah. jika memang tahlil itu benar apa yang akan kita dapatkan? Apakah yang kita dapatkan benar2 menjanjikan kelak di alam sana? dan seandainya salah apa juga akan kita dapatkan? Klo ak disuruh memilih, ak akan memilih tuk tidak mengikutinya, karena ak blum pernah mendengar hukum “meninggalkan tahlilan akan mendapatkan dosa”. Jadi ak memilih untuk tidak mendapatkan apa2 dari pada mempertaruhkan kehidupanku di akherat kelak. Terima kasih

sandhi mengatakan...

Ternyata Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kenduri kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN TERLARANG, BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH.
Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :

MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
TENTANG
KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH


TANYA :
Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

JAWAB :
Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.


KETERANGAN :
Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
“MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN ( YANG DILARANG ).”

Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :
“Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.
Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”
Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).
Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi  terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.
Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

SELESAI, KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

 REFERENSI : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

 CATATAN : Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa bacaan atau amalan yang pahalanya dikirimkan/dihadiahkan kepada mayit adalah tidak dapat sampai kepada si mayit. Lihat: Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim 1 : 90 dan Takmilatul Majmu’ Syarah Muhadzab 10:426, Fatawa al-Kubro (al-Haitsami) 2:9, Hamisy al-Umm (Imam Muzani) 7:269, al-Jamal (Imam al-Khozin) 4:236, Tafsir Jalalain 2:19 Tafsir Ibnu Katsir ttg QS. An-Najm : 39, dll.

Al-Kiss mengatakan...

ikhtilafi ummaty, rohmah, begitu hadist Nabi SAW.
kebenaran sejati hanya di"tangan" ALlah SWT.

Anonim mengatakan...

Kalau saya sih tetep milih tahlilan, istighotsah, ziarah, dan baca Qunut. Yang gak seneng ya udah, gak usah nyari2 musuh. Gitu aja repot

www.bmtmakmursejahtera.com mengatakan...

sy punya bukunya,setelah sy baca sy semakin yakin jika islam yg rahmatan lil alamin ini sy temukan di jamiyah NU.dr awal sy sdh menduga kalo hamidy ini ujung2nya sm dg yunior2 nya.jika debat NU vs Wahabi,NU yg menang itu mah biasa2 sj gk ada yg istimewa.untuk para kyai/gus NU sy sndr menyayangkan, mrk terlalu sibuk dg ngajar kitab dan pengajian,sekali2 ngenet gitu biar tahu kalau diskusi nu dg tahlilnya lagi seru.anak buah Nurdin M Top lg semangat2nya bikin blog buat nyerang NU. kalau sy sih males, drpd ngladeni mending tak suruh belajar iqro' sj biar bisa ngaji.pengalaman pribadi, dulu pernah debat dg mrk, setiap nyampaikan dalil sll terjemahn. stelah sy desak baca arabnya ternyata gk bisa ngaji. capek dech..

Anonim mengatakan...

Kalau yang saya tahu H. Mahrus Ali itu bukan Kyai, bukan pula mantan NU terbukti dari catatan MWC NU tempat kelahirannya atau tempat sekarang dia berdomisili pada nama2 kepengurusan NU tidak terdapat Nama H. Mahrus Ali, kurang jelas tanyakan sendiri pada pengurus NU nya jangan pada H.Mahrus Ali selaku pengaku karena bisa jadi itu adalah salah satu cara untuk menarik banyak perhatian kaum wahabi yg suka buat fitnah. (*Warga Sidoarjo

Anonim mengatakan...

Kalau saya tetep milih tahlilan & yasinan & maulidan karena di dalamnya banyak kalimat2 dzikir & tahlilan apalagi Maulid yg mengagungkan asma Nabi Muhammad seperti sejarah hijrahnya Nabi disambut oleh kaum Muhajirin, dari pada ucapan2 mengkafirkan & menyesatkan paling malu ndengernya.

Anonim mengatakan...

Anshar maksudnya

Anonim mengatakan...

untuk menilai benar atau tidaknya adalah apa & cara serta tujuan yg disampaikan itu baik seperti anggapan saya kalau bacaan2 itu baik & bagus tentunya berpahala daripada berkata kotor & mengaku2 sb mantan padahal tidak pernah diakui, ini khan memalukan sekaleeee...namanya gak gentlement aliaz pengeccutttt!!!!!

Anonim mengatakan...

H.Mahrus Ali menurutku orang islam kurang kerjaan dan tak tahu malu ngaku NU padahal gak ada catatan dalam kepengurusannya, mungkin dulu iya dia pengin menyusup ke NU bahasa kerennya jadi mata2 wahabi lalu ditolak kemudian dendam x yah he........

Anonim mengatakan...

astaghfirullah...,beginikah pribadi seorang muslim yg kaffah?.menolak dgn nada yang tdk pantas di lontarkan.

Anonim mengatakan...

diajak ke syari'at gk mau,d ingatkan nuduh fitnah. bagai mana jd islam yg kaffah? islam kok rasa hindu. kami bukannya menghujat,tetapi mengingatkan. pstinya tgas sesama muslim jika muslim yg lain salah,anda-anda tentu sudah tau.Assalamu'alaikum.

muro mengatakan...

Amar ma'ruf nahi munkar akan mandeg, kalau ada yang mengingatkan dengan lantang dengan banyak ayat qur'an dan juga hadits soheh kemudian dibilang fitnah, mulut-mulut jahiliyah terlontar kepada penulis bagi mereka yang tidak sejalan. trus apa inikah tanda-tanda kecil/besar akan datangnya kiyamat, (1)ummat islam banyak tapi kaya buih, (2) qur'an ada tapi hanya tulisannya, (3)Masjid ramai tapi kosong dari iman.(4)Agama di jual/ditukar murah hanya dengan sesuap nasi. masya Allah, astagfirullah, bukankah Allah mengingatkan kita, jika kita dalam perbedaan pendapat segeralah kembali kepada Allah dan Rasulnya......(wallahu a'lam)

cak wim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Anonim mengatakan...

budaya - budaya hindu msih bnyak dlakukan olh masy Islam indonesia,
pdhl di negara2 Islam lainya gak ada cntohnya arab saudi sbg negara asal Islam & asal Rasulullah Muhammad SAW.

Anonim mengatakan...

budaya - budaya hindu msih bnyak dlakukan olh masy Islam indonesia,
pdhl di negara2 Islam lainya gak ada. cntohnya arab saudi sbg negara asal Islam & asal Rasulullah Muhammad SAW.
itu dlu dlakukan olh para walisongo utk membuang kbiasaan hindubuda,dg maksud suatu saat umat bsa blajar & mncari yang bnar. tapi mlah mnjadi hal rutin hingga skrg,